Powered by Blogger.

Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.4

Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.4

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil kasus asuhan keperawatan yang dilakukan pada klien An “D” dengan gangguan sistem pernapasan : “Tonsilofaringitis Di Ruang Perawatan Anak Bawah RSUP RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar” selama 3 hari perawatan terhitung tanggal 21 sampai 23 Juli 2009, maka pada bagian ini penulis akan membahas kesenjangan antara teori yang ada dengan kenyataan yang diperoleh, serta hasil pelaksanaan studi kasus. Di samping itu pada bagian ini disertakan pula analisa faktor pendukung dan penghambat selama melaksanakan asuhan keperawatan.

Dalam menyusun dan melaksanakan asuhan keperawatan terhadap An ”D” kami merencanakan keperawatan yang meliputi pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan uraian sebagai berikut :

1. Pengkajian

Pengkajian merupakan dasar utama dalam proses keperawatan, pengumpulan data yang akurat dan sistematis dapat membantu dalam menentukan status kesehatan klien dan merumuskan diagnosa berdasarkan hal tersebut. Penulis mengadakan pengkajian pada An “D” yang di rawat di Ruang Perawatan Anak Lontara IV Bawah RSUP RS Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada tanggal 21 sampai 23 Juli 2009. Adapun keluhan utama pada saat dikaji : nyeri saat menelan, sedangkan menurut teori keluhan yang muncul pada penyakit ini antara lain : terdapat nyeri pada tenggorokan, mulut berbau, nyeri ketika menelan, kadang disertai otalgia (sakit telinga), demam tinggi, pembesaran kelenjar submandibula sehingga dari teori dan kasus ditemukan kesenjangan dimana pada teori ditemukan adanya demam tinggi, mulut berbau, seringkali disertai otalgia, pembesaran kelenjar submandibula, sedangkan pada saat dilakukan pengkajian pada An“D” tidak ditemukan tanda dan gejala tersebut. Hal ini terjadi karena pada saat melakukan pengkajian klien sudah mendapatkan perawatan dua hari sebelumnya dan kecepatan tim kesehatan serta keluarga dalam memberikan penanganan dan pertolongan pada klien secara cepat. Dimana semua masalah diatas diakibatkan oleh proses infeksi yang berkepanjangan, misalnya otalgia yang merupakan tanda lebih lanjut yang mengindikasikan bahwa bakteri telah menyerang daerah telinga akibat penanganan yang tidak cepat, pembesaran kelenjar submandibula sebagai respon dari proses infeksi juga tidak ditemukan karena penanganan yang lebih cepat untuk mengatasi infeksi pada faring dan tonsil.

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan teori ada 8 diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada tonsilofaringitis antara lain :

1. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi
2. Takut/ cemas berhubungan dengan kesulitan bernapas, prosedur dan lingkungan yang tidak dikenal (rumah sakit)
3. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri.
4. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif
5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan proses inflamasi, ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
6. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi, insisi pembedahan
7. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan/ atau hospitalisasi anak
8. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit

Sedangkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien An “D” ada 3 yaitu :

a. Nyeri berhubungan dengan proses penyakit
Hal ini terjadi karena peradangan pada saluan pernapasan yang menyebabkan inflamasi sehingga merangsang pengeluaran zat-zat mediator kimia yang diteruskan ke thalamus dan dipersepsikan ke korteks serebri sehingga terjadi nyeri

b. Gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat
Hal ini terjadi karena virus patogen pada tonsil yang menyebabkan edema pada faring dan tonsil sehingga terjadi nyeri saat menelan.

c. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan otot
Hal ini terjadi karena suplai O2 ke jaringan menurun sehingga terjadi penurunan metabolisme dan terjadi kelemahan.

Sedangkan diagnosa yang tidak ditemukan pada kasus tetapi tidak ada dalam teori yaitu :

a. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan proses inflamasi. Diagnosa ini tidak ditegakkan dalam kasus karena pada saat melakukan pengkajian klien tidak memperlihatkan adanya tanda-tanda pola napas yang tidak efektif.

b. Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi mekanis, inflamasi, peningkatan sekresi, nyeri. Diagnosa ini tidak ditegakkan dalam kasus karena pada saat pengkajian klien tidak tampak mengalami hambatan jalan napas. Tingkat infeksi yang berat dengan akumulasi secret yang berlebihan pada saluran nafas akan menyebabkan klien sulit bernafas, pada kasus yang ditangani oleh penulis tidak ditemukan akumulasi secret yang berlebihan, karena penanganan yang cepat oleh tim medis serta kesigapan orang tua membawa anaknya ke RS untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan

c. Resiko infeksi berhubungan dengan adanya organisme infektif. Diagnosa ini tidak ditegakkan dalam kasus karena pada saat melakukan pengkajian klien tidak berada dalam status resiko infeksi namun infeksinya sudah aktual ditandai dengan demam tinggi 38 oC. Penulis tidak mengangkat diagnosa infeksi akan tetapi lebih menitik beratkan pada masalah hipertermi yang merupakan masalah yang timbul akibat infeksi.

d. Intolerasi aktivitas berhubungan dengan proses inflamasi, ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Diagnosa ini tidak diangkat oleh penulis karena penulils lebih cenderung untuk mengatasi personal hygiene yang kurang akibat kelemahan dari klien dan masalah personal hygiene ini juga menjadi masalah yang dikeluhkan oleh orang tua klien.

e. Perubahan proses keluarga berhubungan dengan penyakit dan/ atau hospitalisasi anak. Diagnosa ini tidak ditegakkan karena keluarga selalu ada mendampingi klien sehingga keadaan sakit tidak mengurangi kebersamaan keluarga.

f. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit berhubungan dengan proses inflamasi. Diagnosa ini tidak ditegakkan karena sudah terjadi penurunan suhu, mengingat klien sudah mendapat perawatan dan pengobatan sebelum penulis melakukan pengkajian.

3. Perencanaan

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, selanjutnya penulis menetapkan tujuan yang akan dicapai serta intervensi yang tepat yang disesuaikan dengan masalah, kebutuhan, dan respon dari keluarga pasien.
Perencanaan disusun berdasarkan konsep teori yang ditetapkan untuk diterapkan secara langsung pada pasien dengan tonsilofaringitis, masalah, kebutuhan, dan respon keluarga pasien mendasari penyusunan rencana keperawatan yang akan dilaksanakan pada pasien tonsilofaringitis yang disesuaikan dengan kondisi yang ditemukan pada pasien.
Penyusunan intervensi ini berdasarkan teori kesenjangan yang penulis temukan adalah adanya diagnosa gangguan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan intake tidak adekuat yang tidak ditemukan pada teori tetapi ada pada pasien yang dikaji.

4. Implementasi

Pelaksanaan tindakan asuhan keperawatan dilakukan berdasarkan pada rencana tindakan yang telah disusun oleh penulis yang mengarah kepada tercapainya tujuan asuhan keperawatan.

Prinsip pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan oleh penulis terhadap pasien dan keluarga senantiasa berdasarkan teori yang ada dan penulis tidak menemukan adanya kesenjangan antara teori dan kasus yang ada.

Semua tindakan yang direncanakan pada pasien untuk menjadi skala prioritas dilaksanakan secara keseluruhan dan berkesinambungan, dan tetap mempertimbangkan prioritas tindakan mana yang harus dilakukan, rencana yang telah disusun dalam rencana perawatan tidak dilaksanakan secara berurutan namun berdasarkan skala prioritas dan menyesuaikan dengan rutinitas rumah sakit.

Secara keseluruhan pelaksanaan tindakan keperawatan tidak ditemukan adanya kesenjangan dengan apa yang digariskan pada teori dan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan, penulis senantiasa mempertimbangkan situasi dan kondisi pasien.

5. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan, dimana dalam proses ini kita dapat menilai apakah tindakan keperawatan yang telah dilakukan sudah berhasil atau belum. Berdasarkan evaluasi yang telah dilakukan, semua diagnosa teratasi. Hal ini karena adanya kerjasama antara klien, keluarga, perawat dan tenaga kesehatan lainnya.

PREVIE :  Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.3

NEXT : Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.5
Anda baru saja membaca artikel di Menara Ilmu berkategori Kesehatan dengan judul Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.4 . Anda bisa sebarkan artikel ini dengan URL http://menarailmuku.blogspot.com/2013/05/contoh-karya-tulis-ilmiah-keperawatan.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: sukiman palumbai -
Beri Komentar Untuk "Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.4 "

Belum ada komentar untuk "Contoh Karya Tulis Ilmiah Keperawatan Bag.4 "