Powered by Blogger.

Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2

Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2. Artikel ini merupakan lanjutan dari dari postingan sebelumnya mengenai Peramalan dan Perencanaan Agregat. Berikut lanjutan pembahasannya.

1. Definisi Perencanaan Agregat.

Berikut adalah pengertian perencanaan agregat menurut beberapa ahli yaitu :

a. Menurut Nasution (2006 : 66) perencanaan agregat merupakan suatu perencanaan produksi untuk menentukan berapa unit volume produk yang harus diproduksi setiap periode bulannya dengan menggunakan kapasitas maksimum yang tersedia. Kata agregat menyatakan perencanaan dibuat pada tingkat kasar untuk memenuhi total semua produk yang dihasilkan, bukan perindividu produk. Sebagai contoh untuk pabrik cat, perencanaan agregat dinyatakan dalam berapa liter cat yang akan diproduksi meskipun permintaan terdiri dari warna, kualitas dan ukuran kaleng yang berbeda.

b. Menurut Schroeder (2003 : 243) perencanaan agregat berkenaan dengan penyesuaian tingkat penawaran dan tingkat permintaan atas output selama jangka waktu menengah yaitu sampai 12 bulan ke depan. Kata agregat mengimplikasikan bahwa perencanaan dilakukan dengan satu ukuran menyeluruh atas output. Tujuan dari perencanaan agregat adalah untuk membuat tingkat output secara keseluruhan untuk kebutuhan permintaan di masa depan yang berfluktuasi. Perencanaan agregat dihubungkan dengan keputusan bisnis lainnya seperti keuangan, pemasaran, dan manajemen sumber daya manusia.

c. Menurut Render (2004 : 114) perencanaan agregat atau penjadwalan agregat adalah sebuah pendekatan untuk menentukan kuantitas dan waktu produksi pada jangka menengah (3 hingga 18 bulan ke depan).

d. Dalam situs www.wikipedia.com, perencanaan agregat adalah aktivitas operasional yang memiliki rencana agregat untuk proses produksi untuk jangka waktu 3 sampai 18 bulan ke depan dan untuk memunculkan ide terhadap manajemen seperti berapa kuantitas sumber daya material atau lainnya yang harus diproduksi dan kapan harus diproduksi, agar supaya total biaya operasional organisasi tetap berada pada tingkat minimum pada periode tersebut.

Dari beberapa definisi yang dikemukakan di atas, penulis berkesimpulan bahwa perencanaan agregat adalah perencanaan kegiatan operasional untuk memberikan tingkat output yang harus dihasilkan sebuah fasilitas selama 3 hingga 18 bulan, agar sesuai dengan tingkat permintaan yang tidak pasti di masa depan dengan memaksimalkan penggunaan fasilitas selama 3 hingga 18 bulan, agar sesuai dengan tingkat permintaan yang tidak pasti di masa depan dengan memaksimalkan penggunaan fasilitas yang tersedia namun dengan tetap mempertimbangkan minimalisasi total biaya operasi. Rencana ini harus konsisten dengan strategi jangka panjang manajemen puncak danm bekerja dengan sumber daya yang dialokasikan oleh keputusan strategis sebelumnya.

2. Fungsi Perencanaan Agregat

Mengapa perencanaan agregat itu perlu dilakukan? Terdapat 4 poin alasan pentingnya dilakukan perencanaan agregat, yakni :

a. Untuk memaksimalkan penggunaan fasilitas dan meminimalkan resiko kelebihan penggunaan atas fasilitas dan fasilitas yang menganggur.

b. Memastikan ketersediaan kapasitas yang cukup untuk memuaskan permintaan yang diharapkan.

c. Merencanakan perubahan pada kapasitas produksi yang sistematik untuk mencapai puncak dan lembah pada kurva permintaan pelanggan.

d. Memperoleh keluaran yang paling optimum dari sumber daya yang tersedia.

Menurut Nasution (2003 : 25) fungsi dari perencanaan agregat adalah menyesuaikan kemampuan produksi dalam menghadapi permintaan pasar yang tidak pasti dengan mengoptimumkan penggunaan tenaga kerja dan peralatan produksi yang tersedia sehingga total biaya produksi dapat ditekan seminim mungkin. Pendapat tersebut juga didukung oleh Chase (2005 : 516) yang menyatakan bahwa fungsi dari perencanaan agregat adalah menentukan kombinasi yang optimal dari tingkat produksi, jumlah tenaga kerja, dan tingkat persediaan. Perencanaan agregat yang tergolong perencanaan jangka menengah dengan periode 3 sampai 18 bulan memegang peranan penting dalam perencanaan operasi secara keseluruhan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa fungsi dari perencanaan agregat adalah untuk menentukan perencanaan operasi jangka menengah yang mengoptimumkan kombinasi penggunaan sumber daya yang dimiliki perusahaan untuk dapat memenuhi permintaan pasar yang tidak menentu dengan tetap mempertimbangkan efisiensi biaya. Dengan adanya perencanaan agregat dapat mendukung rencana jangka panjang berupa perencanaan strategi kapasitas di masa mendatang ataupun mendukung rencana jangka pendek operasional harian ataupun mingguan untuk perencanaan bahan baku ataupun penjadwalan produksi.

3. Sifat Perencanaan Agregat

Kebanyakan manajer ingin merencanakan dan mengendalikan operasinya pada tingkat yang seluas mungkin melalui suatu perencanaan agregat yang mengatasi dtil masing-masing produk dan jadwal terinci peralatan dan tenaga kerja. Kenyataan ini merupakan contoh yang baik mengenai bagaimana perilaku manajerial sesungguhnya menggunakan konsep sistem dengan mulai dari keseluruhan. Manajemen memilih untuk menangani keputusan relevan yang mendasar dalam merencanakan penggunaan sumber daya. Ini dicapai dengan cara meninjau proyeksi jumlah tenaga kerja dan dengan menentukan laju kegiatan yang dapat diubah-ubah dengan jumlah tenaga kerja yang tersedia dengan cara mengubah jam kerja. Sekali keputusan dasar ini dibuat untuk jagka perencanaan di depan, maka jadwal induk dan jadwal terinci dapat disusun pada tingkat di bawahnya dalam kendala rencana induk tersebut. Akhirnya, perubahan saat-saat terakhir pada tingkat pelaksanaan pekerjaan harus dilakukan dengan menyadari akibatnya terhadap biaya perubahan tingkat produksi dan terhadap biaya persediaan.

Pertama-tama yang diperlukan untuk perencanaan agregat adalah penyusunan satuan menyeluruh yang logis untuk mengukur output. Kedua, manajemen harus dapat memisahkan dan mengukur biaya-biaya yang relevan. Biaya-biaya ini dapat disusun kembali suatu model yang memungkinkan dibuatnya keputusan yang mendekati optimal untuk urut-urutan periode perencanaan dalam jangkauan waktu perencanaan.

Sifat berurutannya keputusan-keputusan tersebut harus selalu diperhatikan. Suatu keputusan mengenai jumlah tenaga kerja dan laju kegiatan yang dibuat untuk satu periode yang akan datang tak dapat dinilai benar atau salah, baik atau buruk. Keputusan-keputusan juga akan dibuat untuk dua periode berikutnya berdasarkan keputusan yang baru saja dibuat, informasi baru mengenai kemajuan penjualan yang sebenarnya terjadi, dan ramalan untuk sisa jangkauan waktu perencanaan. Hasilnya adalah semua keputusan itu benar atau salah hanya dalam arti urutan keputusan tersebut dalam periode waktu yang diperluas. (Buffa 1999 – 255)

4. Metode Untuk Perencanaan Agregat

Bagi sebagian besar perusahaan, baik strategi perburuan maupun strategi bertingkat tidaklah sehingga suatu kombinasi dari delapan pilihan—yang disebut strategi campuran (mixed strategy)—harus diteliti untuk mendapatkan biaya minimal. Bagaimana pun, oleh karena dapat kemungkinan strategi campuran yang sangat banyak, maka para manajer mendapati ncanaan agregat sebagai tugas yang menantang. Rencana "optimal" tidak selalu bisa roleh. Tentu saja, beberapa perusahaan tidak memiliki proses perencanaan agregat yang al: Mereka menggunakan rencana yang sama dari tahun ke tahun, membuat penyesuaian atau turun sehingga cukup sesuai untuk permintaan tahunan yang baru. Metode ini tidak berikan banyak fleksibilitas, dan jika rencana yang asli kurang optimal, maka keseluruhan es produksi akan menghasilkan kinerja yang juga kurang optimal. Dalam bagian ini akan diperkenalkan beberapa teknik yang digunakan oleh para ajer operasi untuk mengembangkan rencana agregat yang lebih bermanfaat dan sesuai. cana agregat ini beragam mulai dari metode diagram (atau grafik) yang umum dipakai gga serangkaian pendekatan maternatis yang lebih formal, termasuk metode transportasi pemrograman linear.

a. Metode Grafik dan Metode Diagram

Teknik grafik dan diagram (graphical and charting techniques) sangat terkenal karena mudah dipahami dan digunakan. Pada dasarnya, rencana ini menggunakan beberapa variabel secara bersamaan agar perencana dapat membandingkan permintaan yang diproyeksikan dengan kapasitas yang ada. Pendekatan ini merupakan pendekatan trial-and-erroryang tidak menjamin wbuah rencana produksi yang optimal, tetapi hanya membutuhkan perhitungan yang terbatas dan dapat dilakukan oleh karyawan administrasi.
Berikut ini adalah lima tahapan dalam metode grafik :

a) Tentukan permintaan pada setiap periode.

b) Tentukan kapasitas untuk waktu reguler, lembur, dan subkontrak pada setiap periode.

c) Tentukan biaya tenaga kerja, merekrut dan mem-PHK, dan biaya penyimpanan persediaan.

d) Pertimbangkan kebijakan perusahaan yang dapat diterapkan pada pekerja atau tingkat persediaan.

e) Buat rencana alternatif dan kaji biaya totalnya.

b. Pendekatan Matematis Untuk Perencanaan

Beberapa pendekatan matematis terhadap perencanaan agregat telah banyak dikembangkan diantaranya:

a) Metode Transportasi Dalam Program Linear.

Jika masalah perencanaan agregat dipandang sebagai masalah alokasi kapasitas operasi untuk memenuhi permintaan yang diperkirakan, maka rencana agregat dapat dirumuskan dalam format program linear.

b) Linear Decision Rule

Merupakan model perenxcanaan agregat yang berupaya untuk mengoptimalkan tingkat produksi dan tingkat jumlah tenaga kerja sepanjang periode tertentu. Model ini meminimisasi biaya total dari biaya gaji, rekrutmen, PHK, lembur, dan persediaan melalui serangkaian kurva biaya kuadrat.

c) Management Coefficient Model

Dikembangkan oleh E.H Bowman yang membangun suatu model keputusan formal di seputar pengalaman dan kinerja manajer. Teori yang mendasari adalah pengalaman masa lalu manajer cukup baik, sehingga dapat digunakan sebagai dasar menetapkan keputusan di masa depan. Teknik ini menggunakan analisa regresi terhadap keputusan produksi yang diambil manajer di masa lalu.

d) Simulasi

Suatu model computer yang dinamakan “ Penjadwalan lewat simulasi” yang dikembangakan tahun 1966 di R.C Vergin. Pendekatan simulasi ini menggunakan prosedur pencarian kombinasi nilai yang biayanya minimal untuk ukuran jumlah tenaga kerja dan tingkat produksi.

5. Perencanaan Agregat Di Sektor Jasa.

Pada kenyataan sektor jas seperti bank, usaha angkutan, restoran cepat saji, penerapannya lebih mudah daripada di perusahaan manufaktur.
Pengendalian biaya tenaga kerja di perusahaan jasa merupakan sesuatu yang penting. Pengendalian Biayanya meliputi:

1. Pengendalian yang ketat atas jam kerja di perusahaan jasa dapat dipastikan menghasilkan tanggapan cepat terhadap respon konsumen.

2. Beberapa bentuk sumber tanag kerj apanggilan yang dapatditambahkan atau dihilangkan untuk memenuhi permintaan yang tak terduga.

3. Fleksibilitas keahlianpekerja kerorangan yang memungkinkan relokasi tenaga kerja yang ada.

4. Fleksibilitas keahlian pekerja peerorangan pada tingkat output atau jam kerja untuk memenuhi permintaan yang sudah diperkirakan.

Penerapan Perencanaan Agregat disektor jasa diantaranya pada:

a) Restoran

Pada jasa ini volume produknya tinggi maka diarahkan pada:

- pemulusan tingkat produksi
- penentuan ukuran jumlah tenaga kerja yang dipekerjakan
- usaha mengelola permintaan untuk menjaga agar peralatan dan pekerja tetap bekerja.

b) Industri Penerbangan

Perencanaan agregat mancakup jadwal atau table atas:

- jumlah penerbangan masuk dan keluar di setiap pusat.
- Jumlah penerbangan di setiap rute.
- Jumlah penumpang yang harus dilayani di setiap penerbangan.
- Jumlah awak pesawat dan awak di darat yang dibutuhkan pada setiap pusat dan bandara.

c) Rumah sakit.

Masalah yang dihadapi adalah alokasi uang, staf, perlengkapan untuk memenuhi permintaan pasien atas pelayanan jasa rumah sakit yang bersangkutan.

d) Rantai Perusahaan Kecil Nasional

Contohnya adalah jasa foto copy, percetakan, pusat computer, yang mana pertanyaan atas perencanaan agregat vs perencanaan independent di setiap badan usaha menjadi sebuah perhatian. Output dan pembelian dapat direncanakan secara terpusat apabila permintaan dapat dipengaruhi melalui promosi khusus. Pendekatan ini menguntungkan karena mengurangi biaya pembelian dan periklanan dan membantu arus kas di lokasi yang independent.

e) Jasa lain-lain.

Seperti jasa keuangan, transportasi, komunikasi, rekreasi, memeberikan output yang volumenya tinggi namun tidak berwujud. Untuk jasa semacam ini lebih utama pada perencanaan persyaratan sumber daya manusia (lihat bab tentang sumber daya manusia) dan pengelolaan permintaan.

 Terima kasih atas kunjungannya di blog "Menara Ilmu" semoga artikel  tentang Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2 bermanfaat untuk anda.

PREVIEW PAGE : Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.1
Anda baru saja membaca artikel di Menara Ilmu berkategori Ekonomi dengan judul Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2. Anda bisa sebarkan artikel ini dengan URL http://menarailmuku.blogspot.com/2013/03/peramalan-dan-perencanaan-agregat-bag2.html. Terima kasih!
Ditulis oleh: sukiman palumbai -
Beri Komentar Untuk "Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2"

Belum ada komentar untuk "Peramalan dan Perencanaan Agregat Bag.2"